Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2025

Perihal Dua Asing di Tengah Keramaian

Di tengah riuh yang tak berhenti, dua asing berdiri tanpa janji, lalu kata-kata lahir perlahan, menceritakan diri, membuka tabir. Bising sekeliling lenyap begitu saja, seolah dunia mengecil jadi hanya berdua. Tentang mimpi, tentang luka, tentang langkah yang pernah tersesat, semua mengalir tanpa batas. Aneh, tapi indah bagaimana seorang asing bisa jadi cermin, menampakkan siapa kita, lebih jujur dari mereka yang lama tinggal. Dan ketika waktu kembali memanggil, tinggal kenangan samar di udara, bahwa pernah ada pertemuan singkat yang membuat hati terasa pulang.

Sabtu

Hari menepi, hari berhenti, Hari jeda dari letih yang panjang, Hari sunyi, hari damai, Hari tempat jiwa pulang. Sabtu… Langkah pelan, nafas ringan, Mata memandang langit tenang, Sabtu adalah ruang, Untuk hati yang ingin pulang. Sabtu… Ada doa yang jatuh perlahan, Ada harap yang tumbuh perlahan, Sabtu bukan sekadar waktu, Ia jeda… menuju restu. Sabtu… Heningmu musik, Diam-mu bait, Dan aku membaca hidup, Seperti syair yang tak pernah habis.

12 Rabiul Awal

Di malam sunyi, langit tersenyum, Bintang berbisik, cahaya berlabuh, Tanah Mekah harum bersemu, Menanti hadirnya insan penebar kasih. Terbitlah cahaya di 12 Rabiul Awal, Rahmat Allah menjelma nyata, Seorang Nabi, penuntun umat, Muhammad, sang kekasih Allah. Tangis bayi itu bukan sekadar suara, Ia adalah janji, doa, dan cahaya, Membelah kelam zaman jahiliyah, Menyinari dunia dengan tauhid mulia. Wahai Rasul, cahaya kalbu, Shalawat mengalir sepanjang waktu, Kami mengenang kelahiranmu, Dengan cinta yang takkan layu.

Perjumpaan singkat

Di antara riuh stan dan cahaya, Dua orang asing bertemu sebentar. Tanpa nama, tanpa cerita, Obrolan mengalir bagai rinai senja. Kau bicara mimpi, aku bicara rasa, Di tengah keramaian yang sibuk sendiri. Seperti dua pelaut yang kehilang arah, Menemukan mercusuar di tengah hari. Tawa kita kalahkan suara mesin, Dunia sejenak terasa begitu ramah. Dalam percakapan yang singkat nan padat, Jiwa berkenalan sebelum raga menyapa. Dan ketika waktu memanggil untuk berpisah, Barulah kita bertukar dua nama. Sebuah janji yang mungkin kan sirna, Atau mungkin awal dari cerita yang lama. Kau berbalik, lalu menghilang di kerumunan, Namun hangatnya tetap tinggal di dada. Perjumpaan singkat nan berkesan, Bagai puisi pendek yang sempurna.