Postingan

Perihal Dua Asing di Tengah Keramaian

Di tengah riuh yang tak berhenti, dua asing berdiri tanpa janji, lalu kata-kata lahir perlahan, menceritakan diri, membuka tabir. Bising sekeliling lenyap begitu saja, seolah dunia mengecil jadi hanya berdua. Tentang mimpi, tentang luka, tentang langkah yang pernah tersesat, semua mengalir tanpa batas. Aneh, tapi indah bagaimana seorang asing bisa jadi cermin, menampakkan siapa kita, lebih jujur dari mereka yang lama tinggal. Dan ketika waktu kembali memanggil, tinggal kenangan samar di udara, bahwa pernah ada pertemuan singkat yang membuat hati terasa pulang.

Sabtu

Hari menepi, hari berhenti, Hari jeda dari letih yang panjang, Hari sunyi, hari damai, Hari tempat jiwa pulang. Sabtu… Langkah pelan, nafas ringan, Mata memandang langit tenang, Sabtu adalah ruang, Untuk hati yang ingin pulang. Sabtu… Ada doa yang jatuh perlahan, Ada harap yang tumbuh perlahan, Sabtu bukan sekadar waktu, Ia jeda… menuju restu. Sabtu… Heningmu musik, Diam-mu bait, Dan aku membaca hidup, Seperti syair yang tak pernah habis.

12 Rabiul Awal

Di malam sunyi, langit tersenyum, Bintang berbisik, cahaya berlabuh, Tanah Mekah harum bersemu, Menanti hadirnya insan penebar kasih. Terbitlah cahaya di 12 Rabiul Awal, Rahmat Allah menjelma nyata, Seorang Nabi, penuntun umat, Muhammad, sang kekasih Allah. Tangis bayi itu bukan sekadar suara, Ia adalah janji, doa, dan cahaya, Membelah kelam zaman jahiliyah, Menyinari dunia dengan tauhid mulia. Wahai Rasul, cahaya kalbu, Shalawat mengalir sepanjang waktu, Kami mengenang kelahiranmu, Dengan cinta yang takkan layu.

Perjumpaan singkat

Di antara riuh stan dan cahaya, Dua orang asing bertemu sebentar. Tanpa nama, tanpa cerita, Obrolan mengalir bagai rinai senja. Kau bicara mimpi, aku bicara rasa, Di tengah keramaian yang sibuk sendiri. Seperti dua pelaut yang kehilang arah, Menemukan mercusuar di tengah hari. Tawa kita kalahkan suara mesin, Dunia sejenak terasa begitu ramah. Dalam percakapan yang singkat nan padat, Jiwa berkenalan sebelum raga menyapa. Dan ketika waktu memanggil untuk berpisah, Barulah kita bertukar dua nama. Sebuah janji yang mungkin kan sirna, Atau mungkin awal dari cerita yang lama. Kau berbalik, lalu menghilang di kerumunan, Namun hangatnya tetap tinggal di dada. Perjumpaan singkat nan berkesan, Bagai puisi pendek yang sempurna.

Suasana Tongkrongan Tengah Malam

Malam merangkak perlahan, di bawah lampu temaram jalan, obrolan mengalir seperti arus, tak terbendung oleh kantuk yang mendekap. Asap coklat panas mengepul dari gelas, menghangatkan cerita yang tak pernah habis. Tentang cinta yang gagal, mimpi yang belum jadi, atau sekadar tawa yang meledak tanpa arti. Langit hitam jadi saksi setia, bintang-bintang mendengar rahasia, dan angin malam menyapu lembut sisa resah yang diam-diam terselip. Di sini waktu seperti berhenti, sepi tak berani mendekati. Hanya kami, gelak tawa, dan obrolan sunyi, menghidupkan malam hingga pagi berjanji.

Pertama

  Aku bersandar pada dinding yang lembab Mataku tertuju kearah meja disudut kamar Sembari mengayunkan kaki, tanganku membunyikan jari Pertanyaan mulai memasuki akal pikiranku Apakah yang pertama itu, apakah itu satu? Atau apakah itu aku?   Buton, 2022

Januari

Januari datang dengan langkah yang hening, Mengusung angin dingin, menyapa pagi, Seperti buku baru yang terbuka, Mengundang harapan dan impian yang belum terukir. Setiap langkahnya penuh janji, Seperti embun yang menyelimuti bumi, Membasuh hati yang penuh keraguan, Mengajak jiwa untuk memulai kembali. Di bawah langit yang terang, Januari menuliskan cerita baru, Melepaskan beban masa lalu, Dan membiarkan semangat tumbuh kembali. Dalam heningnya, ada suara hati, Menghitung detik, mengukir waktu, Januari adalah langkah pertama, Menuju hari-hari yang lebih indah.